Your Ad Here

Sunday, February 21, 2010

Cerita Brondong Pencuri Hatiku dan …

Aku lihat brondong itu di halte Sarinah. Berdegup keras jantungku. Apa yang harus aku perbuat terhadap brondong itu, setelah sekitar sebulan kejadian di rumahku. Di halte masih banyak orang, dan dia bersama 2 orang temannya. Sementara hujan rintik-rintik dan waktu sudah menunjukkan jam 10 malam. Sedangkan aku di situ sendirian. Perang batin dan logika berkecamuk hebat dalam diriku. Ingin rasanya aku menghampirinya dan langsung memukul sampai sepuas hatiku. Tapi logikaku bilang, “Jangan!!” Bagaimana kalau dia dan temen-temennya membalikkan fakta dengan omongan-omongannya, sementara disitu masih banyak orang dan disitu daerah preman. Apa bukan kamu sendiri nanti yang hancur babak-belur??

Dan apa kamu siap mempertaruhkan status-mu demi perkara yang bisa dinilai dengan rupiah?

Menurutku benar juga kata si logika tetapi emosi-ku tidak terima, dia meledak-ledak. Aku mencoba menghubungi kedua temanku via hp. Untuk peneguhan apa yang harus aku lakukan. Tapi sial, kedua temanku hp tidak aktif, dan satunya tidak diangkat-angkat. Di saat perang dalam diriku masih bergejolak hebat, tiba-tiba brondong itu bersama teman-temannya naik bus, dan bus langsung jalan. Dan hujan deras mulai mengguyur. Emosiku seperti kalah telak saat itu. Aku menghisap rokok dalam-dalam untuk menenangkan semua apa yang baru saja terjadi.

Beberapa minggu setelah aku melihat brondong tersebut, aku mencoba menghubungi sms hp 0815…, sekedar iseng dan say hello. Ternyata dibalas sms-ku. Dan menanyakan kenal dimana? aku jawab kenal waktu chating internet. Oooo… dan saat itu aku mulai keep in touch. Sampai semua informasi aku dapatkan. Dari alamat email, sampai alamat rumahnya yang di Bekasi. Serta kegiatannya yang pengangguran. Dan saat-nya aku bisa nge-BOOM dia. Karena dalam keep in touch aku iming-imingi pekerjaan, dan dia percaya itu semua karena memang dia pengangguran. Sudah terbayangkan kepuasan untuk benar-benar menyikat habis dirinya .

Apakah penge-BOOM-an ku terjadi???!! Ternyata tidak… Dengan surutnya waktu, aku berusaha memaafkan dia, walau dia tidak pernah minta maaf. Dan untuk menenangkan itu, aku hapus email-nya serta identitas-identitas lainnya yang berhubungan dengan dia. Semua sudah aku hapus, pus. Hal ini untuk menghindari kalau suatu saat emosiku muncul kembali, aku bisa memadamkan karena toh aku sudah tidak ada jalan untuk melampiaskannya.

*****

FLASH-BACK:

Hari Rabu malam, aku tidak ada acara, dan kebetulan besok aku libur. Hmmmm mau kemana ya… malam panjang ini. Pilihan terlalu sedikit , karena malam Kamis bukan malam istimewa buat sebagian besar orang, kecuali Malam Minggu atahu minimal malam Sabtu. Kebetulan aku saat itu cukup suka clubbing. Akhirnya aku putuskan untuk pergi ke salah satu diskotik. Diskotik yang aku pilih saat itu adalah diskotik yang sangat seru untuk sebagian kaum kita, diskotik ML; Moonlight di daerah Kota. Tentu kesan pertama pergi kesana… betapa kumuhnya diskotik ini. Dan untuk obrolan sesuatu yang merusak imej apabila kita nyebutin sering pergi ke ML . Tapi memang begitulah keadaannya karena terbilang murah meriah. Di lain pihak banyak orang bourju pergi kesana, minimal pernah sekali kesana. Ya… banyak yang munafik. Disana begitu mudahnya kita bisa dapat pasangan , tapi juga begitu mudahnya kita akan berantem dan mengakhiri masa pacaran karena diskotik ML. Nggak percaya… ?? coba deh. Lho… kok malah promosi?

Akhirnya aku masuk ke diskotik itu sendirian. Melewati lorong remang-remang, disitu sudah banyak orang-orang berdiri di pinggir gang. Saat itu ada acara Semi Final : Play Back nyanyi lagu-lagu dangdut. Wu… seru; ada yang play-back Goyang Dombret. Rasanya luwes-luwes, bahkan yang aslinya malahan kalah. Betapa anehnya dunia ini.

Saat pertunjukan selesai, aku duduk-duduk dan ngobrol dengan kedua teman-ku yang kebetulan ketemu disana. Saat aku ngobrol tiba-tiba di seberang bangku, aku lihat brondong yang alamak super manis, menurutku. Rasanya perpaduan wajah antara Gunawan dan Anjasmara. Wah, betapa membuatku blingsatan. Sampai-sampai temanku heran, ada apa gerangan dengan diriku. Akhirnya ketahuan juga, bahwa aku sedang naksir brondong. Dan salah satu temanku ternyata naksir juga, tapi dia sadar “sesama bus kota dilarang saling mendahului” disamping juga dia sudah punya bf.

Singkat cerita aku sudah kenalan dengan brondong itu yang namanya Andi. Dan dia merajuk manja pingin sekali ikut aku ke rumah, sambil sekali-kali mencium pipiku. Wah pucuk dicinta ulam tiba, pikirku. Tanpa berfikir panjang aku “bungkus” (bawa) brondong itu. Wajahnya yang manis benar-benar membuatku serasa bahagia malam itu. Karena sudah sama-sama capek dan ngantuk, kami berdua siap-siap langsung mau tidur. Dia buka baju dan celananya, demikian juga aku. Tinggal cd saja yang melekat di tubuh kami masing-masing. Kami sambil berpelukan sewaktur tiduran. Dan tangan kami masing-masing saling mengusap dada dan payudara. Aku pandangi wajah Andi… betul-betul membuatku bahagia wajah itu. Aku ciumi bertubi-tubi pipinya, rasanya aku sangat sayang, bukan sekedar nafsu. Pikirku, ini mungkin benar-benar jodohku. Sesuai dengan yang aku idam-idamkan selama ini.

Sementara tangan Andi sudah mulai nakal menuju daerah yang sensitif. Membuat kantukku tertahan… dan desiran jantungku yang bekerja membuat libido-ku bangkit berdiri. Aku tak kuasa menahannya, dan tanganku pun terkena magnit menggerayang bagian vital Andi. Huh, keras, sangat keras punyanya. Akhirnya kami saling membetot barang yang menggemaskan tersebut.

Tak lama kemudian Andi mulai aktif mengisap-isap payudaraku. Nikmat sekali isepannya. Dan gantian mengisap payudara sebelahnya… Cukup lama Andi mengedot kedua payudaraku. Sambil aku sedang membayangkan di-edot oleh Gunawan sang idolaku tersebut. Sungguh fantasiku melayang jauh. Tidak lama kemudian Andi mulai bergerak dari payudara, bibirnya menelusuri pangkal lenganku, dan akhirnya ke daerah ketiak. Ketiakku habis dilumati oleh bibirnya yang tipis merah tersebut. Sungguh pintar sekali ia memainkan bibir dan lidahnya yang lembut dan hangat diantara bulu-bulu ketiakku. Setelah puas dengan satu ketiakku ia pindah ke ketiak yang lainnya. Rasanya lengkap tanpa satu daerah yang terlewati. Bibirnya yang lembut seolah mempunyai kaki menelusuri seluruh tubuhku. Akhirnya sampai di puser, dan menjelajah ke bawah lagi.

Di tempat berdiri tegak batangku, bibir dan lidahnya seolah menari-nari, dan di bawah kepala batangku, ah… pandai benar bibirnya mencumbui. Dan akhirnya tenggelam semua kepala batangku dalam lumatan bibirnya yang seksi itu. Lidahnya tak mau ketinggalan dalam berperan menciptakan gelombang nafsuku. Aku hanya bisa ah ih uh… menikmati betapa gelora nafsuku tersalurkan di sela-sela bibirnya. Aku tidak mau hanya pasif belaka menikmati cumbuannya, kuputar tubuhku untuk berotasi 180 derajat. Sekarang, sambil menikmati kenyutan bibirnya pada penis-ku, aku berbuat sama dengan penis-nya. Kulumat habis batang keras yang putih kemerah-merahan itu. Aku julurkan lidahku untuk menyapu bagain kepala batang. Sambil tetap aku jepit kuat-kuat batang itu dengan bibirku yang basah dan tak lupa aku dorong masuk, dan keluar lagi sampai kepala batangnya mendekati bibir terus aku dorong masuk sedalam-dalamnya, berulang-ulang.

Dia bergelinjang juga menikmati permainanku, yang mungkin aku termasuk sangat expert untuk memilin-milin batang kemaluannya. Bibirku cukup tahu urat-urat mana yang mesti ditekan untuk menimbulkan sensasi. Desahan nafasnya jelas terdengar, walaupun mulutnya sambil mengulum batangku yang tegar berdiri. Tapi tiba-tiba dia mencabut batangnya dari dalam mulutku. Aku tahu dia sudah mau mencapai klimaks. Tetapi pintar juga dia; bisa mengatur permainan seks. Takut klimaksnya akan memperpendek kenikmatan yang masih pingin direngkuhnya lebih lama lagi.

Andi mengambil posisi di atas, dan mulutnya tidak mau jauh dari batangku, dan sekarang batang itu dilepaskan. Dia memandikan seluruh bagian scrotumku dengan lidahnya yang sangat agresif itu. Daerah yang rawan bagiku. Tiba-tiba ia menjilat turun dari bola-ku, dan menjilati bagian antara bola dan lubang anus, wuw… disitu ada sedikit bulu halus… serrr, aduh enaknya. Seluruh syarafku terasa berkumpul disitu. Tak lama kemudian… hah! dia menjilat bibir anusku. Ohhhhh sungguh geli-geli nikmat. Dan bibir itu seolah tahu mana yang harus disapu dengan agresif. Setelah puas dengan bibir anus… sekarang bibir itu menembus dalam anusku. Dia memperlakukan anusku bak mulutku. Ia kecupin dengan lembut dan sambil lidah ia julur-julurkan ke dalam.

Sangat lama dia memanjakan anusku dengan bibir Gunawan yang tipis seksi tersebut. Dan lidah itu tak bosen bosennya bergoyang terus dengan lembutnya. Akhirnya dia menyudahi permainan tersebut, sambil mengambil tas kecilnya untuk mengambil dan memasang kondom.

Sepertinya saya tahu apa keinginannya. Dan aku pasrah saja, toh tadi dia sudah memberikan kepuasan yang sangat amat aku nikmati. Dia mulai mengangkat kakiku. Dan pelan tapi pasti dia mengarahkian rudalnya ke lubang anus yang tadi sudah dia beri kenikmatan. Pelan dan pelan kepala batangnya masuk… setelah itu sedikit-demi sedikit batangnya pun mulai masuk. Rasa nyeri mulai menjalar di lubang anusku. Tapi rasa nyeri itu seolah menghilang, begitu dia meneroboskan batang kemaluannya sambil ia menciumi dan mengenyut payudaraku, sungguh pintar sekali dia dalam menetek. Tak terasa batang itu sudah masuk aku telan dalam anusku. Rasa nyeri itu benar-benar lenyap… Setelah aku lebih nyantai, dia mulai menggenjot pelan-pelan penisnya, keluar-masuk dalam anusku. Dan akselerasinya bertambah seirama dengan bertambah cepat nafsu kita berdua. Cepat dan sangat cepat. Aku sangat menikmati permainan ini. Dan ini baru pertama kalinya aku bisa menikmati seks dengan posisi di-fuck.

Aku raih pantatnya dan aku tarik untuk lebih menekan pantatku. Dia benar-benar seperti sedang menunggang kuda binal. Maju-mundur dengan cepatnya. dan lenguhan mulutku-pun tak kuasa aku tahan. Ah… uh… ah… uh…

Dalam kecepatan maju-mundur penisnya dalam anusku yang sangat cepat dan tidak teratur… aku tak tertahan lagi. Aku kocok penisku kuat-kuat… dan crot, crot… crot… muncrat sepermaku keluar dan dibarengi desahan yang sangat kuat dari Andi… pertanda dia juga keluar dalam waktu yang hampir bersamaan denganku.

Basah dada Andi dengan semburan spermaku yang benar-benar dashyat saat itu. Dan ini really benar-benar pertama kali aku bisa mengeluarkan air maniku dalam kondisi di-fucked. Oh… kesan yang begitu sangat indah.

Setelah kami saling membersihkan badan masing-masing. Aku dan Andi siap-siap tidur… sambil berpelukan. Kita saling puas dalam permainan tadi. Dan aku berkata dalam diriku, untuk menjadikan Andi sebagai boyfriendku. Sudah siap aku untuk mengarungi kehidupan bersama Andi… Dan aku tertidur dengan pulassss dengan ditemani mimpi indahku.

Pagi-pagi kami bangun hampir bersamaan. Aku cium kening Andi untuk mengungkapkan betapa sayangnya aku.

“Bang Andi mau mandi dulu. “

“Ntar, aja bareng ama abang. ” timpa-ku

“Gak, malu , abang setelah Andi aja. “

Akhirnya Andi mandi duluan. Tetapi betapa cepatnya ia mandi.

“Cepat amat mandinya Di. “

“Udah biasa kok, dah gantian abang yang mandi. “

Akhirnya aku mandi juga, masuk ke kamar mandi sambil aku putar kran. Sebelum mandi aku buang air besar. So… cukup lama aku berada di kamar mandi.

Setelah selesai, sambil keluar dari kamar mandi aku sedikit teriak:” Mau sarapan apa Di pagi ini? “

Tidak ada jawaban. Aku cari dia di kamar tidur, tidak ada. Di teras belakang juga tidak ada. Kucari lagi di depan rumah… tidak ada. Aku sedikit curiga. Aku buka lemari pakaianku tempat aku menyimpan handphone. Ooo… My God… Handphone-ku lenyap. Dan jam tangan di atas lemari juga lenyap. Lemas aku dibuatnya. Aku sangat teledor, menaruh kunci diatas lemariku, hal ini aku lakukan agar tidak ada kesan bahwa aku mencurigainya. Ternyata salah!!

Tanpa banyak berfikir lagi, aku lari keluar rumah, aku kejar Andi siapa tahu masih bisa terkejar. Aku naik ojek. Dan menyetop bus arah jurusan Bekasi, arah seperti waktu dia mengenalkan diri. Dengan perasaan marah aku berada di dalam bus yang juga sumpek pagi hari itu. Sampai di daerah Bekasi aku tidak tahu harus berhenti dimana. Akhirnya aku menyadari betapa bodohnya aku. Dengan perasaan sangat marah pada diri sendiri aku pulang, dengan kehilangan beberapa benda yang cukup berharga bagiku. Dan impianku mendapatkan bf Andi, seperti impian yang memuakkan.

Wednesday, February 17, 2010

Dompet Panas

Tidak biasanya bis kota pulang kandang lebih awal. Kalau biasanya jam 7 malam masih beroperasi, hari ini, sudah sejam sejak aku keluar dari kantorku di Jl. KHA Dahlan, bis yang kutunggu tak kunjung juga datang. Mungkin imbas dari maraknya demo, yang memacetkan kompleks Kantor Pos, yang kebetulan menjadi sentra setiap demo, sekecil apapun itu. Padahal hari itu juga aku ada acara mujahadahan di Pondok Krapyak, dan kebetulan aku sie acaranya. Segala rasa berkecamuk, demi membayangkan betapa bingungnya teman-teman panitia. Sedangkan handphone andalanku, sudah ngedrop baterenya sejak jam 3 sore tadi, biasa, karena memang hari Sabtu tidak begitu banyak yang harus kukerjakan di kantor, sehingga hiburan alternatife yaa, main game HP.

Becak. Yah, tiba-tiba pikiran itu datang, ketika di depanku, becak sedang menurunkan penumpang. Persis di depan Radio Arma Sebelas, tempat kumenunggu bis. Entah kenapa, padahal kalau dalam keadaan biasa, tidak mungkin aku memakai jasa becak, yang tentunya, akan menghabiskan gaji sehariku, atau bahkan lebih, karena pondok Krapyak memang jauh dari Malioboro. Biasanya aku akan menelephone teman suruh menjemput dan mengganti uang bensinnya, meski tidak jarang ditolak uang itu.

“Silahkan!”, kata yang logatnya tidak pas dilafadzkan oleh yang empunya suara, karena memang penumpang itu bule.

“Terima kasih”, dengan senyum kubalas keramahan yang ditawarkannya. Tanpa banyak basa-basi, kupinta abang becak menggenjot becaknya. Sempat kutoleh bule itu, hmm, masih memandangku, aneh. Dari aku mencoba transaksi becak, tidak lama setelah dia turun, pandangannya aneh. Ah, sudahlah, pikirku, karena kemudian aku disibukkan dengan pikiranku ke acara mujahadahan, selama dalam perjalanan.

Sesampainya di kosku yang dekat pondok, tergesa kuraih dompet, kuberi ongkos pada abang becak. Ada yang aneh, tapi aku sendiri tidak tahu apa. Aku mandi, dan ke pondok. Urusan makan nanti, pikirku. Setelah acara setengah jalan, rasa lapar menterorku. Karena tragedi yang kualami sorenya, maka tugasku sudah dialihkan pada teman lain. Ah, aku bisa santai. Aku bisa bebas keluar nyari makan, pikirku.

Tersentak aku, ketika kubuka dompet saat mau membayar. Dompet itu tebal, banyak isinya, dengan berbagai kartu identitas, kartu kredit. Ah, bayanganku langsung ke sosok bule sore itu. Oh, mungkin aku tadi juga bayar becak pake duit di dompet ini, gumanku. Mungkinkah jatuh di jok becak itu, dan tanpa sadar aku mengambilnya?. Rasa bersalah berkecamuk. Rasa kasihan, terlebih. Aku yakin bapak itu bergantung banyak dengan dompet ini. Aku lihat isinya lebih teliti. Hmmm, dia nginap di Natour Garuda. Yup, aku harus memberi tahu, kalau dompetnya aman, di tanganku.

“Bisa disambungkan dengan Mr. Daniel Smith?”, pintaku kepada pihak hotel. “Sangat penting!”, sambungku.

“Dompet yaa?”, suara di seberang menyahut. Bayangan kebingunan bule itu menghantuiku. Kalau saja terjadi padaku, wuihh, aku tidak tahu lagi. Di negeri orang tanpa identitas, tanpa apapun.

“Selamat malam, di sini Smith!”, suara itu membuyarkan kengerianku.

“Bisa bahasa Indonesia?”, suara pertamaku.

“Tidak begitu lancar”, jawab bule itu. Nampak benar kebinaran di suaranya.

“Aku yang tadi sore anda sapa, ketika turun dari becak. Kuharap Mister masih ingat”, kuterdiam sesaat.

“Yaa, yaa. Hmmm”. Jawaban di seberang menyakinkanku kalau bule itu sudah ingat aku.

Aku bercerita panjang lebar. Sampai aku harus ganti beberapa uang yang tanpa sengaja aku pakai. Sesekali kami terlibat dalam tawa yang familiar.

“Ok, aku ke sana malam ini! Tunggu di seberang jalan yaa!, soalnya aku tidak biasa masuk hotel besar. Gagap”, pintaku dan disetujui olehnya.

Dengan motor pinjaman, kupacu cepat. Kuperlambat, ketika sudah mendekati Hotel. Ahhh, itu dia. Aku masih ingat sosok itu. Sigap, umur 53-an 179, 67, tidak begitu jangkung untuk ukuran dia.

“Ini, coba periksa isinya!”, masih di atas motor, aku menyerahkan dompet itu.

“Yup, persis”, senyum itu kembali mendesirkan hatiku. Aneh.

“Ok, aku balik dulu yaa!”, sambil kustarter motorku.

“Tunggu!, siapa namamu?, aku harus beri sesuatu ke kamu, aku harus ngobrol banyak ke kamu… “, berondongan kata-kata itu, mematikan motorku lagi.

“Hafiedz. Namaku Hafiedz. Tidak usah!, anda tidak harus memberi apapun ke aku!, tapi kalau mau ngobrol, aku bisa”.

“Deal. Di mana? Kamarku? Di resto? Tempatmu?”, demi melihat rasa berterima kasihnya justru aku jadi kikuk.

“Ke kosku tidak mungkin. Hmmm, ok ke kamar anda saja, tapi janji, nanti aku diantar, sampai sini lagi. Aku gagap”, keluguanku justru mendatangkan tawa renyahnya. Ah, tawa itu, kembali mendesirkanku. Aneh.

“Terima kasih”, uluran tangannya kusambut, sesaat setelah kami sampai di kamarnya. Aku ditariknya, didekap erat. Diciuminya keningku berkali-kali. Bahkan sesekali ciuman itu mendarat di pipiku. Aku tersentak, kaget, kejadian itu demikian cepatnya, karena belum sempat aku duduk, untuk bersiap ngobrol. Aku berontak, mencoba melepaskannya. Ingin kuteriak, tapi mulutku didekapnya.

“Tenang! Tenang!, aku tidak bermaksud jahat”, kulihat di wajah itu ketakutan, rasa bersalah, dan berbagai rasa, aku yakin berkecamuk. Aku masih belum bisa berteriak, Karena mulutku masih di sumbatnya.

“Maafkan, aku. Jangan teriak, aku tidak jahat. Aku hanya ingin berterima kasih atas kebaikan yang kau berikan. Dan mungkin caraku salah buatmu”, berkali wajah itu mencoba menyakinkanku. Aku mengangguk, tanda setuju. Perlahan tangannya di lepaskan dari mulutku.

“Maafkan aku. Aku begitu excited, atas apa yang terjadi hari ini. Kau begitu baik”, berkali-kali kata maaf itu terlontar dari mulutnya.

“OK, aku mengerti. Kalau ngomong dulu, mungkin akan lain”, aku mencoba menetralkan suasana.

“Benar?. Jadi sekarang aku boleh memelukmu, menciummu, untuk sekedar mengucapkan terima kasihku, mencoba menyambutmu sebagai bagian dari hidupku?”, pintanya penuh semangat.

“Tidak. Tidak harus begitu. Cukup dengan kata-kata saja”, sambungku cepat.

“Oh, .. Please. Sekali saja. Kau orang baik pertama yang pernah kutemukan di negeri ini. Please!”, rengekan itu seolah menghilangkan kesan bahwa dia sudah 53 tahun.

“Ok. Sekali saja!”, akhirnya aku tidak kuat juga melihat wajah itu.

Masih berdiri, dia dekap erat tubuhku. Dielusnya rambutku berkali, dicium kembali keningku, tapi kini berbeda, ada perasaan aneh hinggap di dadaku. Rasa haus figure seorang ayah yang sejak lahir tidak pernah kurasakan, hadir. Aku, mulai membalas dekapannya. Rasa sayangnya, elusan lembutnya, bisikan syahdunya, membangkitkan imaginasiku. Aku terhanyut. Aku mulai merasakan kehangatan asing yang selama ini aku impikan. Kesadaranku melayang, sehingga ciuman yang kemudian mendarat dibibirku, kubalas, tidak kalah lembutnya. Kurasakan ada yang menusuk nusuk di daerah sensitifku, tapi aku tidak pedulikan.

Air mataku meleleh. Bahagia?, entahlah. Rindukan sayang seorang ayah? Rindu sosok kakak?, atau aku merasa menemukan sosok yang bisa mengisi keseharianku yang sebatang kara?. Air mata itu semakin deras, membasahi wajahnya. Dia tersentak.

“Maaf, maafkan aku”, kembali dia merasa bersalah atas air mataku yang tidak bisa kubendung.

“Tidak apa-apa. Mister. Aku bahagia. Aku serasa menemukan sosok yang telah lama kurindukan. Justru aku yang harus minta maaf, telah melibatkan hatiku”.

“Tidak apa-apa, teman. Tidak apa-apa. Kau bisa memperlakukan aku sesukamu. Aku siap, selalu siap”, bisikan dibelakang telingan itu kembali melambungkanku. Apalagi elusan syahdunya.

Dia semakin gencar menyerangku, kami terjatuh di lantai. Ciuman mesranya berubah menjadi sangar. Tapi anehnya aku justru mengimbanginya. Bahkan, kurasakan bukan lagi rasa sayang, tapi gairah. Birahi, dan terangsang ketika aku melihat bf, kini kurasakan. Apalagi kemudian dengan cekatan dia membuka bajuku. Putingku yang tidak seberapa dipermainkan. Dijilatinya habis, aku mulai mengerang, seirama dengan irama kulumannya, gigitannya. Tangannya, meraih barang yang selama ini tidak pernah dijamah kecuali olehku. Aku terhenyak, tetapi birahi telah mengalahkanku. Dia semakin nekat melambungkan gairahku.

Bahkan ketika dia membuka paksa celanaku, kubiarkan. Tidak berapa lama aku telah telanjang bulat. Penisku yang tegak setegak tegaknya dipermainkan dengan tangannya. Desahan suaranya ketika berkali mencoba mempermainkan penisku, terasa membangkitkan sesuatu yang benar-benar asing. Keterkejutanku memuncak manakala, tiba-tiba dijilatinya penisku, bak es krim rasa vanilla kesukaan cewekku. Aku mengerang, mendesis. Tapi justru semakin membuat dia kesetanan. Dia buka sendiri bajunya, kulihat penisnya telah memerah, keras dan tegak. Dan tentunya besar. Dan kini sama-sama telanjang. Aku tidak habis pikir, tapi tetap saja semakin tertarik untuk mengikuti permainannya gilanya.

Aku dipapahnya ke kasur. Dijilatinya anusku, lama. Bahkan aku sendiri jijik membayangkannya. Tapi birahi yang memuncak, telah mengalahkan logikaku. Fantasiku semakin melayang. Rasa nikmat naik ke ubun-ubun. Aku semakin mengerang. Bahkan kini, aku sendiri yang memapah mulutnya agar mengulum penisku. Dengan sigap disambarnya penisku. Aku semakin memuncak. Keinginnan untuk merasakan seberapa nikmat penis ini dikulum, terlaksanan sudah, meski bukan dengan cewekku. Kujambak rambutnya, kubenamkan, seirama kenikmatan yang tersendat mengalir ke ubun-ubun.

Sempat kulirik, betapa wajah bule itu begitu menikmati permainan, yang bagiku merupakan pengalaman pertama. Tangannya berkali meremas putingku yang tidak seberapa besar. Sedang tangan satunya, memainkan penisnya yang tidak kalah tegangnya.

Kenikmatan yang bertubi, pada akhirnya tidak bisa kubendung. Pada cabutan mulut terakhirnya, kutekan erat kepalanya. Ada yang menyentak ingin keluar dari penisku. Dan diraungan terakhirku, kusemburkan dengan kuat maniku di mulutnya,

“Oughhh… Oughhh…”, pengalaman pertama membuatku terasa melayang di negeri penuh kenikmatan. Sesuatu yang muncrat dari penisku telah membawaku ke pengalam asing yang sungguh tidak terkira nikmatnya.

Dia semakin merancap penisnya. Aku terpejam kenikmatan. Aku tahu, inilah kali pertama maniku muncrat banyak, dan kental. Namun aku tidak pernah tahu seberapa banyak dan kentalnya, karena mulut itu masih mengulum penisku, bahkan, di telannya tak bersisa. Dan djilatinya sisa sisa maniku. Di akhir kenikmatanku, kurasakan sesuatu menyembur penisku.

“Oughhh… Oughhh,”, demikian desisnya, ketika penisnya juga memancarkan maninya persis ke penisku.

Dia tersenyum. Mendekapku erat, bertubi menciumiku. Kami sama-sama kelelahan. Lama kami masih saling berpagutan ganas, meski nafsu itu tidak lagi berkobar.

“Maafkan aku Mister”, rintihanku, membuyarkan dekapan itu.

“Maaf untuk apa?”, dia kaget.

“Aku telah menjadikan Mister…, uihh. Maafkan aku Mister”. Aku hanya bisa sesenggukan.

“Tidak apa-apa. Bahkan kalau kau menginginkan lagi, aku selalu siap”, wajah itu kembali berbinar, kembali aku diciumnya mesra.

Dan sejak hari itu, aku seolah menemukan kehidupanku yang 180 derajat berbalik. Mister, telah menjadi malaikatku. Aku dibelikannya motor, sebagai tanda terima kasih. Meski aku menolak pada awalnya, namun dia tidak mau ditolak, untuk sekedar memberiku ucapan terima kasih, entah untuk apa. Bahkan, kalau mau aku mau diajak ke negerinya, untuk diperkerjakan di perusahaan bapaknya. Tapi aku tahu diri, bahwa akan lebih baik mengawali sesuatu di negeri sendiri.

Dan kini, 6 tahun sesudah hari itu, motor dengan plat AB 2311 LG, masih terawat baik. Yah, 23 November, kami jadikan nomor plat motor yang dibelikannya. Bahkan, akhirnya rumah berlantai dua, bercat biru, warna kesukaannya, masih asri terawat di kawasan Kota Baru. Dan dia masih sering mengunjungi rumah pemberiannya. Datang, menjenguk aku dan istriku. Anakku yang dianggapnya cucunya sendiri, dan tentunya, memberikan pengalaman lain kepadaku, yang entah sampai kapan berakhir, karena ternyata aku juga sangat menikmatinya.

Friday, February 5, 2010

Meita Si Toket Gede Cerita Panas

Nama gw radit gw masih kuliah di salah satu PTS di jakarta. gw orangnya biasa aja… tapi banyak yang bilang badan gw gagah… tinggi gw 175…. dulu di SMU gw termasuk salah satu cowo yang di PUJA” sama wanita… dari Kelas 1 sampai kelas 3.

Cerita ini berawal pas gw duduk di SMU.. pertama kali gw masuk kelas 3.. gw pindahan dari surabaya.. SMP gw di jakarta cuma sampai kelas 2 semester 1.. kelas 2 SMP.. selanjutnya gw terusin di surabaya.. maklum bonyok pindah kerja melulu… terpaksa gw ikut juga……

waktu itu hari pertama gw masuk kelas 3.. gw di kenalin di salah satu kelas kalu nggak salah 3 IPA… gw orang pinter wajar masuk IPA… hauahahhauah!!.. gw di kenalin sama guru gw n kepsek di kelas… udah gitu gw di suruh duduk di samping cewe yang langsung gw kenal namanya meita tingginya sebahy gw.. badannya sintel banget payudaranya yang selalu buat gw ndisir melulu klo deket dya…. gw sempet tuker- tukeran no. hp sama dya… setelah gw tau dya kaya’ gimana… gw coba aja jadian sama dya…

Gw jalan sama dya masih sampai sekarang… dya klo deket gw rada” binal… Napsuan… bersyukur banget gw dapet cewek macem gitu… waktu itu pelajaran biologi, kebetulan gurunya nggak masuk… gw sama meita ngobrol aja dipojok kelas.. maklum tempat duduk gw sama dya di taro di pojok sama walas… pertama gw sich nggak berani ngapangapain dya di kelas tapi klo udah masuk ke mobil gw abis tuch cewe…. waktu itu gw liat temen gw lagi cipokan di depan kelas…. balakng meja guru… tiba” aja cewe gw ngomong gini

“tuch rido aja berani.. masa’ kamu kalah sama dya??”

“ha? aku kalah……

belum sempet selesai bibir gw di lahap sama meita… di bales aja dengan ciuman n sedotan yang bikin dya ampun”an sama gw… meita sempet ngasih lidahnya ke gw.. tapi gw lepas ciumannya “kenapa??” gw bilang aja begini “aku nggak mau maen lidah di kelas.. takut kelewatan”… “y udah.. maen biasa aja”… gw lanjutin ciuman gw di bawah.. bangku meja gw gw dorong ke depan supaya lebih luas gw ngelakuin ciuman demi ciuman……”ahhhhhh…. ahhhh…… dittttt..” kata” itu selalu keluar dari mulutnya…. setelah gw puas ciumin tuch bibir… gw turun ke bawah ke lehernya dya yang makin membuat dya kewalahan… dan tangan gw ngeremes” payudara dya.. yang ukurannya gw taksir 35 tau A B C D.. cuz setiap gw tanya dya g pernah mau jawab…. gw remes tuch dadanya sampe dya kelojotan… setelah gw nandain tanda merah di lehernya… dya ngeremes remes kontol gw… yang membuat ni “ADEK” kagak kuat lagi buat nahan di dalam kancut…. maupun masih make baju seragam n gw ngelakuin di dalam kelas… gw tetep nggak gentar…. gw bukan resleting seragam gw… n gw keluarin tuch siADEK.. dan si meita udah siap dengan mulutnya yang menganga…. gw sempet nutupin dya pake jaket gw… sehingga misalnya temen gw nanya gw bilang aja lagi sakit…..

jilatan demi jilatan dya beri untuk gw….. isapan dya bikin gw nggak kuat lagi buat nahan keluarnya mani gw….. lidahnya bergoyang” di ADEK gw…. “akhhhhhhh………. crotttttt…… croooootttt crotttttttttttt….” keluar mani gw….. meita membersihkannya dengan mulutnya… dan di kocok” trus di ADEK gw…….. selesai itu gw bersiin mulutnya dya pake tissue yang ada di kantongnya…. gw sama meita kembali berciuman… freenc kiss,,, lidahnya dya ber gelugit” di dalam mulut gw……

jam 12.00 gw balik sekolah…. sebelum gw gas mobil gw ke rumah gw di bilangan bekasi.. nggak jauh dari rumahnya meita.. gw bermain dadanya meita dolo di mobil gw…. gw buka kancing seragam pelan” di bantu meita… dengan napsu yang ganas… meita ngerti maksud gw and dya nge buka tali BHNya dan 2 buah gunung merapi yang bakal mengeluarkan volcano gara isapan gw muncul di depan gw….. dengan napsu di ujung rambut gw isap puting susunya tangan kiri gw megangin kepala belakang dya.. and tangan kanan gw ngeremes” dada yang satu lagi…. “ahhhhh…….. radit…… pelan” donkkk……. meita udah nggak bisa nahannnnn lagiiiii nehhhhhhhh”….. puting meita yang berwarna merah ke merah” mudaan tertelan abis oleh mulut gw and tiba” aja tubuhhhhh meita mejelijang seperti cacing kepanasan……. gw sedot trus dada meita…. sampai puting itu terasa keras banget di mulut gw…. meita cuma diam dan terkulai lemas di mobil gw…. gw liat parkiran mobil di sekolahan gw udah sepi…. meita mengancingi baju seragamnya satu gw bantu supaya cepet….

selama perjalanan pulang meita tetap lemas dan memejamkan matanya… gw kecup keningnya sesampai di rumah gw….

meita bangun dan dya pengen ke kamar kecil… gw suruh dy ganti seragam dengan baju kaos yang dya bawa dari rumah sebelum berangkat kesekolah…. selesai dari kamar mandi gw liat meita nyopot BHnya…. terlihat jelas putingnya dan bongkahan susu sebesar melon itu…..

belum sempat masukin baju ke tasnya dya… dya gw dorong gw tempat tidur… dan gw lahap bibirnya dan dya membalas nya dengan penuh hot panas bercampur dengan napsu… gw yang cuma make bokser doank… ke walahan tangan dy bermain” di selangakangan gw….. gw bermain di leher dya dan gw buat cap merah lagi di lehernya…. gw sibak SMA negeri yang hanya sampai lutut itu dy cuma make CD G string… dengan perlahan” dya nurunin roknya dan dy hanya menggunakan CDnya… gw copot dan gw jilatin vaginanya….. ” ahhhhhhhhhhhhhhhhhh……….. . dit…………………..ahhh hhhhhhh” cuma kata” itu yang keluar daru mulutnya….. gw rasain vagina meita semakin keras… dan gw gigit kelentitnya dya terik semakin kencang untung di rumah cuma da pembantu gw….. “dit…….. puasin gwwww dunkkkkkkk.”…… nggak pake cing cong gw jilat n gw sodok” tuch vagina pake telunjuk gw… ” dittttttttttttttttt……….. .. gw keluarrrrrrrrrrrrrrrr……..” vagina meita basah ketika di depan mata gw……… di sedot sampai bersih tuch vagina…… udah gitu gw liat dya memegang bantal dengan keras……. gw deketin dya dan gw cium bibir dya……. ternyata dya blum lemas….. dy bangkit dan memegang kontol gw dan di kocokinnya sampe si ADEK mengacung sangat keras….. kontol gw di masukin ke mulutnya meita…. di masukan di keuarkan…. sampai” di sedot….uhhhhhhhhh….. nikmat banget yang sekarang dari pada yang di kelas tadi……. biji zakar gw juga nggak lupa ikut ke sedot….. pass biji gw di sedot rasanya gw pengen FLY……. kocokin meita semakin panas dan hisapannya semakin nggak manusiawi lagi…… wajahnya tambah maniss kalo dya sambil horny begini…….. ahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh….. …. crottttttttttttttttttttttttttt tt many gw tumpah semua ke lantai kamar gw…. yang sisanya di jilatin meita sampai bersuh…………………… …… gw bangkit dan menarik tangan meita… gw ciumin dadanya gw kenyot”lagi putingnya sampai merah……….. gw cupang di sebelah putingnya…. manis banget susunya……. membuat gw semakin napsu sama dya……………

“meitaku sayang…. masukinnn sekarang yach??”

“ya udahhhh cepetannn aku dari tadi Nungggu kamu…..”

gw bertukar posisi meita di bawah…. dan gw di atas… sebelum gw masukan gw gesek” dolo di depan vaginanya… belum gw masukin aja meita udah meringis”…. gw dorong perlan”… “Dit… pelan” sakit. nee”….. di bantu dengan tangannya dya perlahan” kontol gw masuk…. baru seperempatnya masukkk gw cabut lagi dannn gw sodok lagi…. dan akhirnya masuk semua….. gw lihat meita sangat menderita…… tapi sepertinya dya seneng banget……. udah semuanya masuk gw goyangin… gw maju mundurin perlahan lahan….. bokong meita pun ikut bergoyang yang membuatku kewalahan….. setelah beberapa menit gw goyang” tiba” badan meita mengejang semua….. dan akhirnya… meita orgasme untuk ke 3xnya…..

gw cabut kembali penisg w dan meita berada di atas gw….. posisi ini membuat gw lebih rileks…. meita memasukannya pelan” di genggamnya penisku dan di masukannya penisku ke vaginanya…. dan blesssss ternanam semua di dalam vaginanya….. badan meita naik turun mengikuti irama…. meita mengambil bantal yang da di sebelahnya dan menarohnya di pala gw…. posisi ini membuat gw bisa ngerasaain 2 gerakan sekaligus… gw emut” kecil putingnya meita dan meremas remasnya….. bokong meita terusss bergoyaanggg…….. ” ahhhhhhhhh…… ahhhhhhhhh…….. isappp teruss dit…………” badan meita mengenjang dan ” radittttttttttttttt akuuu pengen keluar lagi….”….. ” akuuu juga pengennnnn selesaiiiiii metttt……… tahannnn sebentarrrrrrr lagi…….”….. gw dan meita mempercepat permainan dan akhirnya……………”ahhhhh hhhhhhhhhhhhhhhhhhhh hhhhhhhhhh……………….. … gw keluar….. kata” itu yang menngakiri permainan ini..

sampaiiii sekarang pun meita tetep bermain sama gw… kami tetap melakukan banyakk hal…. dan gw di tunangin sama meita karena orang tua kami sama” setuju atas hubungan kami……………

Cerita Panas Gairah Panas Pasienku

Sudah masuk tahun ketiga aku buka praktek di sini semuanya berjalan biasa-biasa saja seperti layaknya praktek dokterr umum lainnya. Pasien bervariasi umur dan status sosialnya. Pada umumnya datang ke tempat praktekku dengan keluhan yang juga tak ada yang istimewa. Flu, radang tenggorokan, sakit perut, maag, gangguan pencernaan, dll.

Akupun tak ada masalah hubungan dengan para pasien. Umumnya mereka puas atas hasil diagnosisku, bahkan sebagian besar pasien merupakan pasien “langganan”, artinya mereka sudah berulang kali konsultasi kepadaku tentang kesehatannya. Dan, ketika aku iseng memeriksa file-file pasien, aku baru menyadari bahwa 70 % pasienku adalah ibu-ibu muda yang berumur antar 20 – 30 tahun. Entah kenapa aku kurang tahu.

“Mungkin dokter ganteng dan baik hati” kata Nia, suster yang selama ini membantuku.
“Ah kamu . bisa aja”
“Bener Dok” timpal Tuti, yang bertugas mengurus administrasi praktekku.

Oh ya, sehari-hari aku dibantu oleh kedua wanita itu. Mereka semua sudah menikah. Aku juga sudah menikah dan punya satu anak lelaki umur 2 tahun. Umurku sekarang menjelang 30 tahun.
Aku juga berpegang teguh pada sumpah dan etika dokter dalam menangani para pasien. Penuh perhatian mendengarkan keluhan mereka, juga Aku tak “pelit waktu”. Mungkin faktor inilah yang membuat para ibu muda itu datang ke tempatku. Diantara mereka bahkan tidak mengeluhkan tentang penyakitnya saja, tapi juga perihal kehidupan rumah tangganya, hubungannya dengan suaminya. Aku menanggapinya secara profesional, tak ingin melibatkan secara pribadi, karena aku mencintai isteriku.
Semuanya berjalan seperti biasa, wajar, sampai suatu hari datang Ny. Syeni ke meja praktekku ..

Kuakui wanita muda ini memang cantik dan seksi. Berkulit kuning bersih, seperti pada umumnya wanita keturunan Tiong-hwa, parasnya mirip bintang film Hongkong yang aku lupa namanya, langsing, lumayan tinggi, dan …. inilah yang mencolok : dadanya begitu menonjol ke depan, membulat tegak, apalagi sore ini dia mengenakan blouse bahan kaos yang ketat bergaris horsontal kecil2 warna krem, yang makin mempertegas keindahan bentuk sepasang payudaranya. Dipadu dengan rok mini warna coklat tua, yang membuat sepasang kakinya mulusnya makin “bersinar”.
Dari kartu pasien tertera Syeni namanya, 28 tahun umurnya.

“Kenapa Bu .” sapaku.
“Ini Dok . sesak bernafas, hidung mampet, trus perut saya mules”
“Kalau menelan sesuatu sakit engga Bu “
“Benar dok”
“Badannya panas ?”
Telapak tangannya ditempelkan ke dagunya.
“Agak anget kayanya”
Kayanya radang tenggorokan.
“Trus mulesnya . kebelakang terus engga”
“Iya Dok”
“Udah berapa kali dari pagi”
“Hmmm . dua kali”
“Ibu ingat makan apa saja kemarin ?”
“Mmm rasanya engga ada yang istimewa . makan biasa aja di rumah”
“Buah2 an ?”
“Oh ya . kemarin saya makan mangga, 2 buah”
“Coba ibu baring disitu, saya perika dulu”

Sekilas paha putih mulusnya tersingkap ketika ibu muda ini menaikkan kakinya ke dipan yang memang agak tinggi itu.
Seperti biasa, Aku akan memeriksa pernafasannya dulu. Aku sempat bingung. Bukan karena dadanya yang tetap menonjol walaupun dia berbaring, tapi seharusnya dia memakai baju yang ada kancing ditengahnya, biar aku gampang memeriksa. Kaos yang dipakainya tak berkancing.
Stetoskopku udah kupasang ke kuping
Ny. Syeni rupanya tahu kebingunganku. Dia tak kalah bingungnya.

“Hmmm gimana Bu”
“Eh .. Hmmm .. Gini aja ya Dok” katanya sambil agak ragu melepas ujung kaos yang tertutup roknya, dan menyingkap kaosnya tinggi-tinggi sampai diatas puncak bukit kembarnya. Kontan saja perutnya yang mulus dan cup Bhnya tampak.
Oohh . bukan main indahnya tubuh ibu muda ini. Perutnya yang putih mulus rata, dihiasi pusar di tengahnya dan BH cream itu nampak ketat menempel pada buah dadanya yang ampuun .. Putihnya . dan menjulang.

Sejenal aku menenangkan diri. Aku sudah biasa sebenarnya melihat dada wanita. Tapi kali ini, cara Ibu itu membuka kaos tidak biasa. Bukan dari atas, tapi dari bawah. Aku tetap bersikap profesional dan memang tak ada sedikitpun niatan untuk berbuat lebih.
Kalau wanita dalam posisi berbaring, jelas dadanya akan tampak lebih rata. Tapi dada nyonya muda ini lain, belahannya tetap terbentuk, bagai lembah sungai di antara 2 bukit.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil menyingkap lagi kaosnya lebih keatas. Tak ada maksud apa-apa. Agar aku lebih leluasa memeriksa daerah dadanya.
“Engga apa-apa Dok” kata ibu itu sambil membantuku menahan kaosnya di bawah leher.

Karena kondisi daerah dadanya yang menggelembung itu dengan sendirinya stetoskop itu “harus” menempel-nempel juga ke lereng-lereng bukitnya.

“Ambil nafas Bu.”

Walaupun tanganku tak menyentuh langsung, melalui stetoskop aku dapat merasakan betapa kenyal dan padatnya payudara indah ini.
Jelas, banyak lendir di saluran pernafasannya. Ibu ini menderita radang tenggorokan.

“Maaf Bu ya ..” kataku sambil mulai memencet-mencet dan mengetok perutnya. Prosedur standar mendiagnosis keluhan perut mulas.
Jelas, selain mulus dan halus, perut itu kenyal dan padat juga. Kalau yang ini tanganku merasakannya langsung.
Jelas juga, gejalanya khas disentri. Penyakit yang memang sedang musim bersamaan tibanya musim buah.

“Cukup Bu .”
Syeni bangkit dan menurunkan kakinya.
“Sakit apa saya Dok” tanyanya. Pertanyaan yang biasa. Yang tidak biasa adalah Syeni masih membiarkan kaosnya tersingkap. Belahan dadanya makin tegas dengan posisnya yang duduk. Ada hal lain yang juga tak biasa. Rok mini coklatnya makin tersingkap menampakkan sepasang paha mulus putihnya, karena kakinya menjulur ke bawah menggapai-gapai sepatunya. Sungguh pemandangan yang amat indah .

“Radang tenggorokan dan disentri”
“Disentri ?” katanya sambil perlahan mulai menurunkan kaosnya.
“Benar, bu. Engga apa-apa kok. Nanti saya kasih obat” walaupun dada dan perutnya sudah tertutup, bentuk badan yang tertutup kaos ketat itu tetap sedap dipandang.
“Karena apa Dok disentri itu ?” Sepasang pahanya masih terbuka. Ah ! Kenapa aku jadi nakal begini ? Sungguh mati, baru kali ini aku “menghayati” bentuk tubuh pasienku. Apa karena pasien ini memang luar biasa indahnya ? Atau karena cara membuka pakaian yang berbeda ?

“Bisa dari bakteri yang ada di mangga yang Ibu makan kemarin” Syeni sudah turun dari pembaringan. Tinggal lutut dan kaki mulusnya yang masih “tersisa”
Oo .. ada lagi yang bisa dinikmati, goyangan pinggulnya sewaktu dia berjalan kembali ke tempat duduk. Aku baru menyadari bahwa nyonya muda ini juga pemilik sepasang bulatan pantat yang indah. Hah ! Aku makin kurang ajar. Ah engga.. Aku tak berbuat apapun. Cuma tak melewatkan pemandangan indah. Masih wajar.
Aku memberikan resep.

“Sebetulnya ada lagi Dok”
“Apa Bu, kok engga sekalian tadi” Aku sudah siap berkemas. Ini pasien terakhir.
“Maaf Dok .. Saya khawatir .. Emmm ..” Diam.
“Khawatir apa Bu “
“Tante saya kan pernah kena kangker payudara, saya khawatir .”
“Setahu saya . itu bukan penyakit keturunan” kataku memotong, udah siap2 mau pulang.
“Benar Dok”
“Ibu merasakan keluhan apa ?”
“Kalau saya ambil nafas panjang, terasa ada yang sakit di dada kanan”
“Oh . itu gangguan pernafasan karena radang itu. Ibu rasakan ada suatu benjolan engga di payudara” Tanpa disadarinya Ibu ini memegang buah dada kanannya yang benar2 montok itu.
“Saya engga tahu Dok”
“Bisa Ibu periksa sendiri. Sarari. Periksa payudara sendiri” kataku.
“Tapi saya kan engga yakin, benjolan yang kaya apa ..”

Apakah ini berarti aku harus memeriksa payudaranya ? Ah engga, bisa-bisa aku dituduh pelecehan seksual. Aku serba salah.
“Begini aja Bu, Ibu saya tunjukin cara memeriksanya, nanti bisa ibu periksa sendiri di rumah, dan laporkan hasilnya pada saya”
Aku memeragakan cara memeriksa kemungkinan ada benjolan di payudara, dengan mengambil boneka manequin sebagai model.

“Baik dok, saya akan periksa sendiri”
“Nanti kalau obatnya habis dan masih ada keluhan, ibu bisa balik lagi”
“Terima kasih Dok”
“Sama-sama Bu, selamat sore”
Wanita muda cantik dan seksi itu berlalu.

Lima hari kemudian, Ny Syeni nongol lagi di tempat praktekku, juga sebagai pasien terakhir. Kali ini ia mengenakan blouse berkancing yang juga ketat, yang juga menonjolkan buah kembarnya yang memang sempurna bentuknya, bukan kaos ketat seperti kunjungan lalu. Masih dengan rok mininya.

“Gimana Bu . udah baikan”
“Udah Dok. Kalo nelen udah engga sakit lagi”
“Perutnya ?”
“Udah enak”
“Syukurlah … Trus, apa lagi yang sakit ?”
“Itu Dok .. Hhmmm .. Kekhawatiran saya itu Dok”
“Udah diperiksa belum ..?”
“Udah sih . cuman …” Dia tak meneruskan kalimatnya.
“Cuman apa .”
“Saya engga yakin apa itu benjolan atau bukan ..”
“Memang terasa ada, gitu “
“Kayanya ada kecil . tapi ya itu . saya engga yakin”

Mendadak aku berdebar-debar. Apa benar dia minta aku yang memeriksa . ? Ah, jangan ge-er kamu.
“Maaf Dok .. Apa bisa …. Saya ingin yakin” katanya lagi setelah beberapa saat aku berdiam diri.
“Maksud Ibu, ingin saya yang periksa” kataku tiba2, seperti di luar kontrol.
“Eh .. Iya Dok” katanya sambil senyum tipis malu2. Wajahnya merona. Senyuman manis itu makin mengingatkan kepada bintang film Hongkong yang aku masih juga tak ingat namanya.
“Baiklah, kalau Ibu yang minta” Aku makin deg-degan. Ini namanya rejeki nomplok. Sebentar lagi aku akan merabai buah dada nyonya muda ini yang bulat, padat, putih dan mulus !
Oh ya . Lin Chin Shia nama bintang film itu, kalau engga salah eja.

Tanpa disuruh Syeni langsung menuju tempat periksa, duduk, mengangkat kakinya, dan langsung berbaring. Berdegup jantungku, sewaktu dia mengangkat kakinya ke pembaringan, sekilas CD-nya terlihat, hitam juga warnanya. Ah . paha itu lagi . makin membuatku nervous. Ah lagi, penisku bangun ! baru kali ini aku terangsang oleh pasien.

“Silakan dibuka kancingnya Bu”
Syeni membuka kancing bajunya, seluruh kancing ! Kembali aku menikmati pemandangan seperti yang lalu, perut dan dadanya yang tertutup BH. Kali ini warnanya hitam, sungguh kontras dengan warna kulitnya yang bak pualam.
“Dada kanan Bu ya .”
“Benar Dok”
Sambil sekuatnya menahan diri, aku menurunkan tali BH-nya. Tak urung jari2ku gemetaran juga. Gimana tidak. Membuka BH wanita cantik, seperti memulai proses fore-play saja ..
“Maaf ya Bu .” kataku sambil mulai mengurut. Tanpa membuka cup-nya, aku hanya menyelipkan kedua telapak tanganku. Wow ! bukan main padatnya buah dada wanita ini.
Mengurut pinggir-pinggir bulatan buah itu dengan gerakan berputar.

“Yang mana Bu benjolan itu ?”
“Eehh . di dekat putting Dok . sebelah kanannya .”
Aku menggeser cup Bhnya lebih kebawah. Kini lebih banyak bagian buah dada itu yang tampak. Makin membuatku gemetaran. Entah dia merasakan getaran jari-jariku atau engga.

“Dibuka aja ya Dok” katanya tiba2 sambil tangannya langsung ke punggung membuka kaitan Bhnya tanpa menunggu persetujuanku. Oohhh . jangan dong . Aku jadi tersiksa lho Bu, kataku dalam hati. Tapi engga apa- apa lah ..
Cup-nya mengendor. Daging bulat itu seolah terbebas. Dan .. syeni memelorotkan sendiri cup-nya …
Kini bulatan itu nampak dengan utuh. Oh indahnya … benar2 bundar bulat, putih mulus halus, dan yang membuatku tersengal, putting kecilnya berwarna pink, merah jambu !
Kuteruskan urutan dan pencetanku pada daging bulat yang menggiurkan ini. Jelas saja, sengaja atau tidak, beberapa kali jariku menyentuh putting merah jambunya itu ..
Dan .. Putting itu membesar. Walaupun kecil tapi menunjuk ke atas ! Wajar saja. Wanita kalau disentuh buah dadanya akan menegang putingnya. Wajar juga kalau nafas Syeni sedikit memburu. Yang tak wajar adalah, Syeni memejamkan mata seolah sedang dirangsang !
Memang ada sedikit benjolan di situ, tapi ini sih bukan tanda2 kangker.

“Yang mana Bu ya .” Kini aku yang kurang ajar. Pura-pura belum menemukan agar bisa terus meremasi buah dada indah ini. Penisku benar2 tegang sekarang.
“Itu Dok . coba ke kiri lagi .. Ya .itu .” katanya sambil tersengal-sengal. Jelas sekali, disengaja atau tidak, Syeni telah terrangsang .
“Oh . ini ..bukan Bu . engga apa-apa”
“Syukurlah”
“Engga apa-apa kok” kataku masih terus meremasi, mustinya sudah berhenti. Bahkan dengan nakalnya telapak tangnku mengusapi putingnya, keras ! Tapi Syeni membiarkan kenakalanku. Bahkan dia merintih, amat pelan, sambil merem ! Untung aku cepat sadar. Kulepaskan buah dadanya dari tanganku. Matanya mendadak terbuka, sekilas ada sinar kekecewaan.

‘Cukup Bu” kataku sambil mengembalikan cup ke tempatnya. Tapi …
“Sekalian Dok, diperiksa yang kiri .” Katanya sambil menggeser BH nya ke bawah. hah ? Kini sepasang buah sintal itu terbuka seluruhnya. Pemandangan yang merangsang .. Putting kirinyapun sudah tegang . Sejenak aku bimbang, kuteruskan, atau tidak. Kalau kuteruskan, ada kemungkinan aku tak bisa menahan diri lagi, keterusan dan ,,,, melanggar sumpah dokter yang selama ini kujunjung tinggi. Kalau tidak kuteruskan, berarti aku menolak keinginan pasien, dan terus terang rugi juga dong . aku kan pria tulen yang normal. Dalam kebimbangan ini tentu saja aku memelototi terus sepasang buah indah ciptaan Tuhan ini.

“Kenapa Dok ?” Pertanyaan yang mengagetkan.
“Ah .. engga apa-apa … cuman kagum” Ah ! Kata-kataku meluncur begitu saja tak terkontrol. Mulai nakal kamu ya, kataku dalam hati.
“Kagum apa Dok” Ini jelas pertanyaan yang rada nakal juga. Sudah jelas kok ditanyakan.
“Indah .” Lagi-lagi aku lepas kontrol
“Ah . dokter bisa aja .. Indah apanya Dok” Lagi-lagi pertanyaan yang tak perlu.
“Apalagi .”
“Engga kok . biasa-biasa aja” Ah mata sipit itu .. Mata yang mengundang !
“Maaf Bu ya .” kataku kemudian mengalihkan pembicaraan dan menghindari sorotan matanya.

Kuremasi dada kirinya dengan kedua belah tangan, sesuai prosedur.
Erangannya tambah keras dan sering, matanya merem-melek. Wah . ini sih engga beres nih. Dan makin engga beres, Syeni menuntun tangan kiriku untuk pindah ke dada kanannya, dan tangannya ikut meremas mengikuti gerakan tanganku .. Jelas ini bukan gerakan Sarari, tapi gerakan merangsang seksual . herannya aku nurut saja, bahkan menikmati.
Ketika rintihan Syeni makin tak terkendali, aku khawatir kalau kedua suster itu curiga. Kalaupun suster itu masuk ruangan, masih aman, karena dipan-periksa ini ditutup dengan korden. Dan . benar juga, kudengar ada orang memasuki ruang praktek. Aku langsung memberi isyarat untuk diam. Syeni kontan membisu. Lalu aku bersandiwara.

“Ambil nafas Bu ” seolah sedang memeriksa. Terdengar orang itu keluar lagi.
Tak bisa diteruskan nih, reputasiku yang baik selama ini bisa hancur.
“Udah Bu ya . tak ada tanda-tanda kangker kok”
“Dok ..” Katanya serak sambil menarik tanganku, mata terpejam dan mulut setengah terbuka. Kedua bulatan itu bergerak naik-turun mengikuti alunan nafasnya. Aku mengerti permintaanya. Aku sudah terangsang. Tapi masa aku melayani permintaan aneh pasienku? Di ruang periksa?
Gila !
Entah bagaimana prosesnya, tahu-tahu bibir kami sudah beradu. Kami berciuman hebat. Bibirnya manis rasanya .
Aku sadar kembali. Melepas.

“Dok .. Please . ayolah .” Tangannya meremas celana tepat di penisku
“Ih kerasnya ..”
“Engga bisa dong Bu ..’
“Dokter udah siap gitu .”
“Iya .. memang .. Tapi masa .”
“Please dokter .. Cumbulah saya .”
Aku bukannya tak mau, kalau udah tinggi begini, siapa sih yang menolak bersetubuh dengan wanita molek begini ?
“Nanti aja . tunggu mereka pulang” Akhirnya aku larut juga .
“Saya udah engga tahan .”
“Sebentar lagi kok. Ayo, rapiin bajunya dulu. Ibu pura-pura pulang, nanti setelah mereka pergi, Ibu bisa ke sini lagi” Akhirnya aku yang engga tahan dan memberi jalan.
“Okey ..okey . Bener ya Dok”
“Bener Bu”
“Kok Ibu sih manggilnya, Syeni aja dong”
“Ya Syeni” kataku sambil mengecup pipinya.
“Ehhhhfff”
Begitu Syeni keluar ruangan, Nia masuk.
“habis Dok”
Dia langsung berberes. Rapi kembali.
“Dokter belum mau pulang ?”
“Belum. Silakan duluan”
“Baiklah, kita duluan ya”
Aku amati mereka berdua keluar, sampai hilang di kegelapan. Aku mencari-cari wanita molek itu. Sebuah baby-bens meluncur masuk, lalu parkir. Si tubuh indah itu nongol. Aku memberi kode dengan mengedipkan mata, lalu masuk ke ruang periksa, menunggu.
Syeni masuk.

“Kunci pintunya” perintahku.
Sampai di ruang periksa Syeni langsung memelukku, erat sekali.
“Dok …”
“Ya .Syeni .”
Tak perlu kata-kata lagi, bibir kami langsung berpagutan. Lidah yang lincah dan ahli menelusuri rongga-ronga mulutku. Ah wanita ini .. Benar-benar ..ehm ..
Sambil masih berpelukan, Syeni menggeser tubuhnya menuju ke pembaringan pasien, menyandarkan pinggangnya pada tepian dipan, mata sipitnya tajam menatapku, menantang. Gile bener ..
Aku tak tahan lagi, persetan dengan sumpah, kode etik dll. Dihadapanku berdiri wanita muda cantik dan sexy, dengan gaya menantang.
Kubuka kancing bajunya satu-persatu sampai seluruhnya terlepas. Tampaklah kedua gumpalan daging kenyal putih yang seakan sesak tertutup BH hitam yang tadi aku urut dan remas-remas. Kali ini gumpalan itu tampak lebih menonjol, karena posisinya tegak, tak berbaring seperti waktu aku meremasnya tadi. Benar2 mendebarkan ..
Syeni membuka blousenya sendiri hingga jatuh ke lantai. Lalu tangannya ke belakang melepas kaitan Bhnya di punggung. Di saat tangannya ke belakang ini, buah dadanya tampak makin menonjol. Aku tak tahan lagi …
Kurenggut BH hitam itu dan kubuang ke lantai, dan sepasang buah dada Syeni yang bulat, menonjol, kenyal, putih, bersih tampak seluruhnya di hadapanku. Sepasang putingnya telah mengeras. Tak ada yang bisa kuperbuat selain menyerbu sepasang buah indah itu dengan mulutku.

“Ooohhh .. Maaassss ..” Syeni merintih keenakan, sekarang ia memanggilku Mas !
Aku engga tahu daging apa namanya, buah dada bulat begini kok kenyal banget, agak susah aku menggigitnya. Putingnya juga istimewa. Selain merah jambu warnanya, juga kecil, “menunjuk”, dan keras. Tampaknya, belum seorang bayipun menyentuhnya. Sjeni memang ibu muda yang belum punya anak.
“Maaaasss .. Sedaaaap ..” Rintihnya ketika aku menjilati dan mengulumi putting dadanya.
Syeni mengubah posisi bersandarnya bergeser makin ke tengah dipan dan aku mengikuti gerakannya agar mulutku tak kehilangan putting yang menggairahkan ini. Lalu, perlahan dia merebahkan tubuhnya sambil memelukku. Akupun ikut rebah dan menindih tubuhnya. Kulanjutkan meng-eksplorasi buah dada indah ini dengan mulutku, bergantian kanan dan kiri.
Tangannya yang tadi meremasi punggungku, tiba2 sekarang bergerak menolak punggungku.

“Lepas dulu dong bajunya . Mas .” kata Syeni
Aku turun dari pembaringan, langsung mencopoti pakaianku, seluruhnya. Tapi sewaktu aku mau melepas CD-ku, Syeni mencegahnya. Sambil masih duduk, tangannya mengelus-elus kepala penisku yang nongol keluar dari Cdku, membuatku makin tegang aja .. Lalu, dengan perlahan dia menurunkan CD-ku hingga lepas. Aku telah telanjang bulat dengan senjata tegak siap, di depan pasienku, nyonya muda yang cantik, sexy dan telanjang dada.

“Wow .. Bukan main ..” Katanya sambil menatap penisku.

Wah . tak adil nih, aku sudah bugil sedangkan dia masih dengan rok mininya. Kembali aku naik ke pembaringan, merebahkan tubuhnya, dan mulai melepas kaitan dan rits rok pendeknya. Perlahan pula aku menurunkan rok pendeknya. Dan …. Gila !
Waktu menarik roknya ke bawah, aku mengharapkan akan menjumpai CD hitam yang tadi sebelum memeriksa dadanya, sempat kulihat sekejap. Yang “tersaji” sekarang dihadapanku bukan CD hitam itu, meskipun sama-sama warna hitam, melainkan bulu-bulu halus tipis yang tumbuh di permukaan kewanitaan Syeni, tak merata. Bulu-bulu itu tumbuh tak begitu banyak, tapi alurnya jelas dari bagian tengah kewanitaannya ke arah pinggir. Aku makin “pusing” …
Kemana CD-nya ? Oh .. Dia udah siap menyambutku rupanya. Dan Syeni kulihat senyum tipis.

“Ada di mobil” katanya menjawab kebingunganku mencari CD hitam itu.
“Kapan melepasnya ?”
“Tadi, sebelum turun .”
Kupelorotkan roknya sampai benar2 lepas .. kini tubuh ibu muda yang putih itu seluruhnya terbuka. Ternyata di bawah rambur kelaminnya, tampak sebagian clit-nya yang berwarna merah jambu juga ! Bukan main. Dan ternyata, pahanya lebih indah kalau tampak seluruhnya begini. Putih bersih dan bulat.
Syeni lalu membuka kakinya. Clitnya makin jelas, benar, merah jambu. Aku langsung menempatkan pinggulku di antara pahanya yang membuka, merebahkan tubuhku menindihnya, dan kami berciuman lagi. Tak lama kami berpagutan, karena ..
“Maass .. Masukin Mas .. Syeni udah engga tahan lagi ..” Wah . dia maunya langsung aja. Udah ngebet benar dia rupanya. Aku bangkit. Membuka pahanya lebih lebar lagi, menempatkan kepala penisku pada clitnya yang memerah, dan mulai menekan.
“Uuuuuhhhhhh .. Sedaaaapppp ..” Rintihnya. Padahal baru kepala penisku aja yang masuk.
Aku menekan lagi.
“Ouufff .. Pelan-pelan dong Mas ..”
“Sorry …” Aku kayanya terburu-buru. Atau vagina Syeni memang sempit.
Aku coba lebih bersabar, menusuk pelan-pelan, tapi pasti … Sampai penisku tenggelam seluruhnya. Benar, vaginanya memang sempit. Gesekannya amat terasa di batang penisku. Ohh nikmatnya ..
Sprei di pembaringan buat pasien itu jadi acak2an. Dipannya berderit setiap aku melakukan gerakan menusuk.

Sadarkah kau?
Siapa yang kamu setubuhi ini?
Pasienmu dan isteri orang!
Mestinya kamu tak boleh melakukan ini.
Habis, dia sendiri yang meminta. Masa minta diperiksa buah dadanya, salah siapa dia punya buah dada yang indah ? Siapa yang minta aku merabai dan memijiti buah dadanya? Siapa yang meminta remasannya dilanjutkan walaupun aku sudah bilang tak ada benjolan ? Okey, deh. Dia semua yang meminta itu. Tapi kamu kan bisa menolaknya? Kenapa memenuhi semua permintaan yang tak wajar itu? Lagipula, kamu yang minta dia supaya datang lagi setelah para pegawaimu pulang . Okey deh, aku yang minta dia datang lagi. Tapi kan siapa yang tahan melihat wanita muda molek ini telanjang di depan kita dan minta disetubuhi?

Begitulah, aku berdialog dengan diriku sendiri, sambil terus menggenjot memompa di atas tubuh telanjangnya … sampai saatnya tiba. Saatnya mempercepat pompaan. Saatnya puncak hubungan seks hampir tiba. Dan tentu saja saatnya mencabut penis untuk dikeluarkan di perutnya, menjaga hal-hal yang lebih buruk lagi.
Tapi kaki Syeni menjepitku, menahan aku mencabut penisku.
Karena memang aku tak mampu menahan lagi .. Creetttttttt………..Kesempr otkan kuat-kuat air maniku ke dalam tubuhnya, ke dalam vagina Syeni, sambil mengejang dan mendenyut ….
Lalu aku rebah lemas di atas tubuhnya.
Tubuh yang amat basah oleh keringatnya, dan keringatku juga. …
Oh .. Baru kali ini aku menyetubuhi pasienku.
Pasien yang memiliki vagina yang “legit” ..

Aku masih lemas menindihnya ketika handphone Syeni yang disimpan di tasnya berbunyi. Wajah Syeni mendadak memucat. Dengan agak gugup memintaku untuk mencabut, lalu meraih Hpnya sambil memberi kode supaya aku diam. Memegang HP berdiri agak menjauh membelakangiku, masih bugil, dan bicara agak berbisik. Aku tak bisa jelas mendengar percakapannya. Lucu juga tampaknya, orang menelepon sambil telanjang bulat ! Kuperhatikan tubuhnya dari belakang. Memang bentuk tubuh yang ideal, bentuk tubuh mirip gitar spanyol.
“Siapa Syen” tanyaku.
“Koko, Suamiku” Oh .. Mendadak aku merasa bersalah.
“Curiga ya dia”
“Ah .engga .” katanya sambil menghambur ke tubuhku.
“Syeni bilang, masih belum dapat giliran, nunggu 2 orang lagi” lanjutnya.
“Suamimu tahu kamu ke sini”
“Iya dong, memang Syeni mau ke dokter” Tiba2 dia memelukku erat2.
“Terima kasih ya Mas … nikmat sekali .. Syeni puas”
“Ah masa .. “
“Iya bener .. Mas hebat mainnya .”
“Ah . engga usah basa basi”
“Bener Mas .. Malah Syeni mau lagi .”
“Ah .udahlah, kita berberes, tuh ditunggu ama suamimu”
“Lain kali Syeni mau lagi ya Mas”
“Gimana nanti aja .. Entar jadi lagi”
“Jangan khawatir, Syeni pakai IUD kok” Inilah jawaban yang kuinginkan.
“Oh ya ..?”
“Si Koko belum pengin punya anak”

Kami berberes. Syeni memungut BH dan blouse-nya yang tergeletak di lantai, terus mengenakan blousenya, bukan BH-nya dulu. Ternyata BH-nya dimasukkan ke tas tangan.
“Kok BH-nya engga dipakai ?”
“Entar aja deh di rumah”
“Entar curiga lho, suamimu”
“Ah, dia pulangnya malem kok, tadi nelepon dari kantor”
Dia mengancing blousenya satu-persatu, baru memungut roknya. Sexy banget wanita muda yang baru saja aku setubuhi ini. Blose ketatnya membentuk sepasang bulatan dada yang tanpa BH. Bauh dada itu berguncang ketika dia mengenakan rok mini-nya. Aku terrangsang lagi … Cara Syeni mengenakan rok sambil sedikit bergoyang sexy sekali. Apalagi aku tahu di balik blouse itu tak ada penghalang lagi.

“Kok ngliatin aja, pakai dong bajunya”
“Habis . kamu sexy banget sih …”
“Ah .. masa .. Kok bajunya belum dipakai ?”
“Entar ajalah . mau mandi dulu .”
Selesai berpakaian, Syeni memelukku yang masih bugil erat2 sampai bungkahan daging dadanya terasa terjepit di dadaku.
“Syeni pulang dulu ya Yang . kapan-kapan Syeni mau lagi ya .”
“Iya .. deh . siapa yang bisa menolak..” Tapi, kenapa nih .. Penisku kok bangun lagi.
“Eh .. Bangun lagi ya ..” Syeni ternyata menyadarinya.
Aku tak menjawab, hanya balas memeluknya.
“Mas mau lagi .?”
“Ah . kamu kan ditunggu suami kamu”
“Masih ada waktu kok …” katanya mulai menciumi wajahku.
“Udah malam Syen, lain waktu aja”

Syani tak menjawab, malah meremasi penisku yang udah tegang. Lalu dituntunnya aku menuju meja kerjaku. Disingkirkannya benda2 yang ada di meja, lalu aku didudukkan di meja, mendorongku hingga punggungku rebah di meja. Lalu Syeni naik ke atas meja, melangkahi tubuhku, menyingkap rok mininya, memegang penisku dan diarahkan ke liang vaginanya, terus Syeni menekan ke bawah duduk di tubuhku. ..
Penisku langsung menerobos vaginanya ..
Syeni bergoyang bagai naik kuda .
Sekali lagi kami bersetubuh .
Kali ini Syeni mampu menccapai klimaks, beberapa detik sebelum aku menyemprotkan vaginanya dengan air maniku …
Lalu dia rebah menindih tubuhku .. Lemas lunglai.

“Kapan-kapan ke rumahku ya … kita main di sana ..” Katanya sebelum pergi.
“Ngaco . suamimu .?”
“Kalo dia sedang engga ada dong ..”
Baiklah, kutunggu undanganmu.
Sejak “peristiwa Syeni” itu, aku jadi makin menikmati pekerjaanku. Menjelajahi dada wanita dengan stetoskop membuatku jadi “syur”, padahal sebelum itu, merupakan pekerjaan yang membosankan. Apalagi ibu-ibu muda yang menjadi pasienku makin banyak saja dan banyak di antaranya yang sexy . …